Pages

3 April 2014

HAPPY BIRTHDAY MY DEAR



Dear… engkau yang ada disana dan (mungkin) tak mengingatku lagi.

Di hari jadimu ini, ijinkan aku mengucapkan selamat ulang tahun dengan segenap rasa sayang dan ketulusan hatiku.
Jika biasanya aku selalu berdoa agar Allah selalu menambah rasa sayangmu padaku. Kini doa itu tak lagi ada.

Semoga dengan bertambahnya usia, kamu bisa semakin dewasa dalam segala hal. 
Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan keselamatan padamu. 
Semoga kamu bisa menjadi lelaki yang bijak, tegas, bertanggung jawab, dan setia. 
Semoga kuliah dan karirmu juga sukses. 
Semoga kamu bisa mewujudkan semua cita-citamu.

Ah, sebenarnya aku sedih hanya bisa mengucapkan kata-kata ini lewat tulisan saja. Tahun lalu, aku pernah berjanji padamu. Jika aku sudah bekerja, aku ingin memberikan surprise di hari ulang tahunmu.
Tapi, takdir memang tak ada yang tahu. Kau dan aku, kini tak lagi bersama.

Jika di tahun-tahun sebelumnya kita selalu merayakan ulang tahun bersama. Kini, ada orang lain yang menggantikan posisiku.
Ah, betapa inginnya aku tetap menjadi orang yang selalu setia di sampingmu. Betapa inginnya aku mengusir siapapun yang ada di dekatmu sekarang.

Tapi…
Aku tak bisa.
Entah kenapa kau lebih memilihnya. Melupakan aku dan semua kenangan tentang kita.

Yah, sudahlah. Sekuat apapun aku menggenggam mu, tapi kalau hatimu bukan untukku lagi buat apa? Bukankah itu hanya menambah dalam luka yang aku rasakan?

My dear… mulai hari ini aku akan menyerah. Menyerah untuk mendapatkan hatimu. Aku sudah mengikhlaskan apapun yang pernah terjadi di antara kita. Aku janji nggak akan mengganggu hidupmu lagi. Dan aku janji, aku akan pergi dari hidupmu.

My dear… sedikitpun aku tak pernah benci padamu. Aku pun tak pernah menyesal mencintaimu. Biar bagaimanapun, kau pernah melukiskan pelangi dalam hidupku.

My dear… jika kau tak pernah menemukan kebahagiaan dalam hidupmu. Kembalilah padaku. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu. (Meski aku tak pernah tahu apakah pintu hatiku masih terbuka untukmu)

My dear… suatu saat nanti jika Allah menakdirkan kita untuk berjodoh. Aku harap kau sudah berubah menjadi lelaki yang lebih tegas, bijak, tanggung jawab, dan setia. Dan satu lagi, suatu saat nanti jika kita ditakdirkan untuk bersama, aku ingin hanya aku yang benar-benar ada di hatimu.

My dear…. Pergilah.
Semoga petualangan cintamu mampu memberikan pelajaran berharga buatmu. 
Semoga lika-liku hidup mampu mengajarkan padamu arti kesetiaan dan ketulusan.
Ubah sifat burukmu. Aku harap kau selalu ingat janjimu. 

Terima kasih atas segala keindahan dan luka yang pernah kau torehkan dalam hidupku. Semoga aku pun bisa semakin dewasa setelah ini.

Happy birthday my dear… I always love u ^_^

6 Februari 2014

“SURAT UNTUK STILETTO BOOK”


          Dear, Stiletto...
          Wah... nggak terasa ya perjalanan Stiletto sudah menginjak usia 3 tahun. Padahal rasanya baru kemarin lho aku kenal sama Stiletto.
         Iya... iya... kemarin. Kira-kira beberapa bulan yang lalu, saat aku lagi gencar-gencarnya menulis, terus aku rajin banget browsing info-info lomba menulis dari internet. Nah, saat aku browsing-browsing itu search engine ku ketemu deh sama Stiletto. Aku penasaran dong sama nama uniknya Stiletto dan berlogo sepatu merah itu. Buru-buru deh aku klik. Ternyata saat itu Stiletto lagi ngadain lomba menulis bertema “A Cup of Tea for Lover; Cinta Buta”
          “Wah, kesempatan nih buat ikut,” pikirku saat itu. Aku langsung terjun mencari-cari referensi buku-buku terbitan Stiletto. Aku juga mencari tahu bagaimana karakter naskah yang diterima Stiletto. Pokonya usaha banget deh buat ikutan lomba itu.

Aku langsung meluncur deh ke toko buku di kotaku. Begitu sampai disana, mataku bergerak liar menuju jajaran rak buku yang berisi buku-buku terbitan Stiletto. Terus, aku ketemu novel “Dear Friend with Love”. 
Begitu baca judulnya, aku langsung tertarik. Soalnya aku pikir novel ini tentang kisah persahabatan yang berubah menjadi cinta. Pas banget sama ceritaku (lhoh, malah curcol :D).  Uhm, tapi setelah aku baca, ternyata alurnya nggak sesederhana yang aku bayangkan. Karin dan Rama harus melewati hati yang lain dulu sebelum mereka bersatu.
Aku langsung terhanyut sama ceritanya. Konflik-konflik yang disuguhkan itu lho, cetar membahana badai. Tapi.... tapi... gara-gara asyik baca buku ini –ditambah lagi ada kesibukan lain- aku jadi melupakan deadline lomba “A Cup of Tea for Lover; Cinta Buta” nya. Pas aku udah bikin cerpennya dan mau kirim, ternyata malah kelewat deadline. Hiks, hancur hatiku saat itu. Rasanya seperti dipanah pake panah api yang panas membara, lalu hatiku hancur berkeping-keping jadi tak bersisa (hehe... lebay). Ya udah deh cerpennya masuk museum folder komputer aja.
Beberapa bulan kemudian, ketemu lagi deh sama lomba review “Anakku Sehat Tanpa Dokter”. Pengen ikutan sih, tapi kan buku ini genrenya buat ibu-ibu ya? Jadi aku kurang tertarik aja, hehe... sampai akhirnya ketemu sama lomba menulis “Surat untuk Stiletto Book” ini. Langsung aku ikutan curhat deh.
Mudah-mudahan di usia yang ke-3 ini, Stiletto bisa menjadi penerbit yang sukses, dan disukai oleh para pembaca. Semakin banyak melahirkan karya-karya hebat dari penulis-penulis terhebat pula. Buku-bukunya semakin best seller juga. Dan yang paling penting, semakin sering mengadakan lomba menulis. Hehe... biar aku bisa ikutan gitu.
O, ya Stiletto. Aku belum pernah mengirim naskah ke Stiletto. Soalnya, aku masih belajar menulis juga. Mudah-mudahan di suatu hari yang cerah nanti, Stiletto bisa benar-benar mewujudkan mimpi aku, untuk menjadi wadah melahirkan karyaku. Very hopefully ^_^
Happy Birthday, Stiletto....

From : 
Nurry Savitri
sha_vie3@yahoo.com

16 Januari 2014

BELAJAR AGAMA SEKALIGUS TEKNIK MENULIS LEWAT CERITA




Judul  Buku   : Penjaja Cerita Cinta
Penulis           : @edi_akhiles
Penerbit         : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan 1      : Desember 2013
Tebal              : 192 halaman
ISBN            : 978-602-255-397-7

“Kumpulan cerita dalam buku ini sungguh tak biasa”
            Sebagai penulis produktif yang namanya masuk kategori Angkatan Sastra Tahun 2000, Edi Akhiles memang pantas dianugerahi penghargaan sebagai Pegiat Sastra Indonesia Tahun 2013 oleh Balai Bahasa Yogyakarta. Disela-sela kesibukannya memimpin DIVA Press, Edi Akhiles masih menyempatkan diri untuk menulis beberapa buku yang inspiratif. Salah satunya Penjaja Cerita Cinta.
            Buku Penjaja Cerita Cinta ini berisi kumpulan cerpen karya Edi Akhiles, yang beberapa diantaranya sudah pernah dipublikasikan di media cetak maupun media online. Cerpen-cerpen dalam buku ini sebagian diantaranya ditulis berdasarkan kisah nyata (based on true story) yang tentu saja sangat inspiratif. Dikemas dengan gaya bahasa yang mengalir, pemilihan diksi yang bagus dan judul-judul yang unik.
            Selama membaca buku ini, kita akan disuguhi cerita yang “tidak biasa”. Mulai dari tema cerita, isi cerita dan gaya penulisannya. Tidak seperti buku antologi cerpen pada umumnya, yang hanya menyajikan satu teknik penulisan yang sama. Maka, dalam buku Penjaja Cerita Cinta, pembaca akan diajak belajar menulis dengan teknik yang berbeda-beda.
Dalam cerpen pertama yang berjudul sesuai covernya Penjaja Cerita Cinta, pembaca serasa dibuai dengan diksi-diksi puitis nan romantis yang berserakan di setiap paragrafnya. Meskipun cerpen Penjaja Cerita Cinta ini dirangkai melebihi halaman yang disyaratkan untuk cerpen pada umumnya, tapi bagi saya pribadi cerita ini memang pantas ditulis dengan halaman yang lebih. Karena, kisah dalam ceritanya yang menarik dan mengajak pembaca untuk terus menikmati kelanjutan ceritanya.
Jika sebelumnya emosi pembaca akan terkuras saat membaca cerpen Penjaja Cerita Cinta. Maka dalam cerpen kedua yang berjudul Love is Ketek, pembaca seolah diajak membaca buku diary, karena tutur bahasanya yang ringan dan sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Teknik penulisan serupa juga bisa ditemukan dalam cerpen berjudul Tak Tunggu Balimu, Abah I Love You, Lengking Hati Seorang Ibu yang Ditinggal Mati Anaknya (In Memoriam Lik Adnan). Cerita dalam cerpen ini sebenarnya memiliki tema yang biasa, namun dikemas dengan teknik menulis seperti buku diary. Serta menyimpan amanat yang begitu mendalam di akhir ceritanya.
Teknik penulisan yang berbeda di setiap cerpen, memang membuat emosi pembaca naik turun. Jika dari awal pembaca diajak bersedih-sedih ria, dalam cerpen yang berjudul Cerita Sebuah Kemaluan, pembaca akan diajak tertawa terpingkal-pingkal, karena melihat dari judulnya saja sudah unik. Saya sendiri pun dibuat tertawa sekaligus bingung karena judul dan jalan ceritanya yang benar-benar lucu dan nyeleneh. Namun, anda jangan berpikir negatif terlebih dahulu. Seperti pesan penulis yang disampaikan di akhir cerita, “Plis baca cerpen ini sampai habis agar tidak sepenggal kesimpulanmu”. Ternyata benar, cerita ini mengajarkan kepada kita bahwa kita sebagai manusia hanya memiliki satu rasa malu dan rasa malu itu harus benar-benar dijaga. Karena apabila sekali saja kita malu, maka seumur hidup pun akan menanggung beban malu itu.
Judul cerpen yang unik serta kisah yang tidak biasa juga akan dijumpai pada cerpen berjudul Dijual Murah Surga Seisinya, Munyuk, Si X Si X and God. Judul-judul unik seperti ini memang seringkali dibutuhkan untuk menarik minat baca. Sehingga pembaca akan merasa penasaran dengan isi ceritanya. Hanya saja dalam cerpen Si X Si X and God bukan hanya judulnya saja yang unik tapi juga teknik menulisnya. Cerpen ini ditulis menggunakan dialog antar tokoh saja tanpa ada pengantar atau narasi di dalamnya. Meski terkesan monoton, tapi cerita dalam cerpen ini sangat edukatif. Yakni, mengajak kita untuk mendengarkan nurani kita. Karena disana tersembunyi suara Tuhan yang selalu mengajarkan kebaikan. Maka, jika ada orang jahat itu karena hati nuraninya telah mati.
Untuk cerpen yang berjudul Cinta yang tak berkata-kata, Menggambar Tubuh Mama, Cinta Cantik, dan Aku Bukan Batu, dirangkai seperti kebanyakan cerpen pada umumnya. Sebagian menggunakan diksi yang ringan dan mudah dipahami. Sebagian lagi, menggunakan diksi puitis dan ada beberapa diksi yang sulit dipahami bagi pembaca dari kalangan awam, seperti saya. LOL
Latar belakang penulis yang memang lulusan ilmu filsafat dan juga seorang penggemar Moto GP, juga akan terlihat dari beberapa cerpen dalam buku ini. Misalnya dalam cerpen Secangkir Kopi Untuk Tuhan, yang bercerita tentang seorang penggemar Moto GP yang bersedih karena kematian Marco Simoncelli. Lalu, dalam cerpen Tamparan Tuhan, saya dibuat merenung lama untuk memahami isi cerita. Mungkin karena saya yang tidak begitu memahami unsur filsafat yang dimasukkan dalam cerpen ini.
Dan, untuk keseluruhan cerita dalam buku ini masih dijumpai beberapa kata yang salah ketik (typo). Namun, hal itu tidak terlalu mengganggu makna dan amanat yang ingin disampaikan penulis. Selain itu, ada beberapa background di dalam buku ini yang kurang dibuat transparan, sehingga akan menutupi beberapa bagian teks dan tentu saja akan mengganggu para pembaca.
            Bagi anda penggemar literasi, maka buku ini akan mengajarkan berbagai teknik kepenulisan yang tentu saja sangat bermanfaat. Mulai dari teknik menulis dengan gaya “khas sastra” dengan diksi yang indah, sampai teknik menulis dengan gaya bahasa yang ringan namun dikemas dengan alur yang begitu rapi dan apik. Di akhir halaman buku ini, penulis juga menyajikan beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh penulis.  Maka, bagi anda yang memiliki cita-cita untuk menjadi penulis profesional. Buku ini sangat layak untuk dimiliki. Selain itu, bagi anda yang haus akan nilai-nilai agama, maka cerita-cerita dalam buku ini akan mengajarkan pada anda nilai-nilai kehidupan beragama.
            Semoga bermanfaat!
***



27 Desember 2013

MENJENGUK KENANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN


                Sebentar lagi tahun 2013 akan tutup buku, disambut tahun 2014 yang masih penuh teka-teki. Akankah  tahun 2014 sama dengan tahun sebelumnya? ataukah lebih baik lagi?
                Aku jadi ingat, dulu, setiap malam tahun baru aku ingin sekali melewati detik-detik pergantian tahun, dengan melihat kerlip kembang api. Tapi, sampai sekarang keinginan itu hanyalah sebuah mimpi. Sampai detik ini aku belum bisa mewujudkan mimpi itu. Bahkan, melihat kembang api dalam mimpi pun, aku tak pernah.
                Hari ini, tepat satu tahun aku menjalani kehidupan tanpa status. Pelajar bukan, pegawai juga bukan. Ya, setahun yang lalu aku resmi menyadang gelar sarjana. Ada rasa bangga, bahagia, sekaligus kecewa kala gelar itu disematkan di belakang namaku. Aku bangga dan bahagia, tentu saja karena setelah 4 tahun lebih aku berjuang di bangku kuliah, akhirnya gelar itu berhasil ku dapatkan. Tapi, aku juga kecewa dan miris, karena sampai sekarang aku belum bekerja layaknya seorang sarjana.
                “Percuma, jauh-jauh kuliah kok nganggur.”
                Sebenarnya aku tak mau mendengar kata-kata itu. Tapi kata-kata itu terus dimuntahkan ke mukaku. Aku berusaha untuk menutup telinga rapat-rapat. Tapi, desau angin seolah ikut berbisik padaku.
                Aku bukan pengangguran. Aku bekerja kok. Meski hanya mengajari anak-anak kecil membaca dan menulis. Ya. Aku membuka usaha bimbel di rumah.Kunamai bimbel kecilku dengan “RUMAH ILMU”. Berharap rumahku menjadi berkah karena banyak ilmu. Tak seperti bimbel kebanyakan, yang sasarannya kaum menengah ke atas. Bimbel ku murah meriah. Cukup dengan seribu rupiah per pertemuan, anak-anak bisa belajar membaca, menulis, bahkan PR mereka pun dijamin selesai. Aku juga bekerja sebagai freelance editor komik di sebuah penerbit besar di Yogyakarta. Yah, memang penghasilan ku tak seberapa. Ibarat kata, hanya cukup untuk beli pulsa. Tapi aku bersyukur, aku sudah bisa memenuhi kebutuhanku sendiri. Tak lagi meminta pada orang tua lagi. Namun, bagaimanapun juga hidup tanpa status itu sungguh tidak menyenangkan. Banyak yang meremehkan, banyak pula yang mengacuhkan.
                Bagiku, tahun 2013 adalah tahun yang penuh cobaan. Mulai dari masalah skripsi yang penuh rintangan, lalu masalah karir yang hingga kini tak juga kutemukan pekerjaan yang cocok, dan satu lagi, masalah jodoh.
                “Kapan nikah? Teman-temanmu udah pada nikah tuh.”
                Jlebbb!
                Rasanya pertanyaan itu selalu aku dengar sepanjang tahun 2013. Ah, aku bingung harus menjawab apa. Kenyataannya, aku memang belum siap menikah. Aku masih ingin fokus dengan karir dulu. Aku juga masih ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Aih, begitu banyak mimpi yang ingin ku rangkai. Andai mereka mau mengerti....
                Aku harap tahun 2014, akan menjadi tahun yang lebih baik bagiku, bagi keluargaku, dan bagi semua orang. Jika di tahun 2013, aku belum menemukan pekerjaan yang cocok, mudah-mudahan di tahun 2014 aku bisa mendapatkan pekerjaan yang cocok, yang jauh lebih baik dari pekerjaanku sekarang. Jika di tahun 2013, jodohku masih samar-samar. Mudah-mudahan di tahun 2014, Allah SWT memperjelas jodohku. Jika di tahun 2013, aku belum bisa merilis novel. Mudah-mudahan di tahun 2014 aku bisa merilis novel.
Dan, apapun cita-citaku di tahun 2013 yang belum bisa aku wujudkan, mudah-mudahan aku bisa mewujudkannya di tahun 2014. Oh ya, yang paling penting dari yang terpenting, aku selalu berharap mudah-mudahan kesehatan, kesejahteraan, keselamatan, rizki yang halal barokah, serta panjang umur senantiasa menaungi aku dan keluarga. Amiin...
                Mudah-mudahan tahun 2014 membawa kebaikan bagi kita semua. Khususnya untuk negeriku Indonesia, semoga tak ada lagi korupsi, kolusi dan nepotisme. Semoga kedamaian senantiasa bersama kami. Wish you all the best ^_^